Jumat, 28 Februari 2014

Bali, Tattoo dan Ubur-ubur

Jumat, 28 Pebruari 2014, 06.16 pm

Satu lagi oleh2 dari Bali yang aku bawa pulang ke Mamuju adalah tattoo. Yipiiiiiiieeee...... akhirnya berhasil juga buat tattoo temporer di Bali.


Waktu jalan2 ke pantai Kuta, ada bapak2 menghampiri dengan membawa sebuah map hijau. Agak aneh juga. Ngapain juga ya bawa2 map ke pantai hari gini? Ternyata map itu dipenuhi disain tattoo. Harga bisa nego. Bolak balik kucari gambar naga, seperti yang pernah kuukir di betis kananku tiap kali berkunjung ke malioboro Jogja. Ternyata gak ada yang sesuai dengan keinginanku. Pose naga2 disitu gak ada yang menarik.

Aku mengulurkan map hijau pada Rafika, teman satu rombongan yang pengen pake tattoo juga. Kemudian berjalan menjauh melihat seorang anak Korea yang di tattoo di leher belakang. Sexy juga anak lelaki kecil itu dengan tattoo barunya. Sebenarnya aku ingin melihat map birunya yang berisi disain tattoo, tapi kakak perempuan si lelaki kecil itu sudah mengantri untuk tattoo di betis kanannya. Aku tersenyum geli. Teringat kakak dan adek yang centil. Mereka sempat merengek minta di tattoo waktu liburan di Malang kemaren. Tapi sayang tidak ada tukang tattoo yang kami temui selama liburan. Oma juga mengomel waktu tahu niat kami bertiga.

Balik lagi ke Rafika yang sedang finishing tattoo kupu2 kecil di lengan kiri bagian dalam. Ngapain juga tattoo disitu... siapa yang bisa lihat. Dah gitu gambar kupu2nya kebalik. Hihihihi....

Aku mengambil lagi map hijau milik si Bapak Tattoo.  Buka pelan2. Sebuah disain tattoo ukuran kecil mencuri perhatianku. Disain itu bergambar logo Yin dan Yang sebagai simbol kesederhanaan dan keseimbangan hidup, sebagai pusat dari pancaran sinar matahari. Manis sekali. Filosofinya juga menarik. Tawar menawar pun terjadi. Dengan pasrah si Bapak Tattoo mengangguk setuju untuk harga sepuluh ribu rupiah bagi tattoo kecil di tangan kiriku.

Gak butuh waktu lama. This is it..... My new tattoo....





Setelah membayar, akupun berjalan menyusuri pantai menunggu sunset tiba. Sunset di Kuta memberi sensasi yang berbeda dengan pantai2 lainnya. Padahal kalau dipikir, mataharinya ya yang itu2 juga....

Sambil berjalan, aku memperhatikan tattoo kecilku. Ya ampun......! Panas dan keringat membuat tintanya yang belum kering luber. Jadi berubah wujud deh. Dear friendku tertawa ngakak sewaktu aku mengirim via bbm perwujudan tattoo ku yang luber. 

"Seperti ubur-ubur Bali" komennya menyemangati kekecewaan hatiku.

"Bisa gak ya dihapus? Aku pengen tattoo ulang."

"Bisa. Pake avtur." Jawabnya cuek.

Huuuuuuuuuhuuuuuuuuuhuuuuuu.........




So, aku hanya bisa pasrah dengan tattoo ubur-ubur Baliku. Aku juga mulai membandingkannya dengan gerombolan ubur-ubur di Bikini Bottom. Ahhhhh.....masih lebih cantik Ubur-ubur Baliku.

Besoknya ke Tanah Lot. Aku sudah siap lahir batin untuk membuat tattoo lagi. Yang imut saja. Kali ini di tangan kanan. Motifnya matahari. Aku jadi suka dengan disain tattoo yang bernuansa bulat. Lucu.

Proses mentattoo dimulai. Harganya sama. Sepuluh ribu rupiah. Tapi campuran tinta tattoonya tidak sebagus yang di Kuta. Agak kecoklatan dan tipis2 saja. Tapi biarlah. Aku malas komplain. Setelah jadi hasilbya bagus juga kok. En thiz iz it....... my 2nd tattoo .  



Trus aku browsing di Google. Mencari disain tattoo yang lucu-lucu. Suatu hari nanti aku mau buat lagi....





Kamis, 27 Februari 2014

Oleh-oleh dari Bli Putu di Bali

Jumat, 28 Pebruari 2014, 01.52 pm

Di Mamuju lagi. Setelah dua hari mengalami proses cuti otak di pulau para Dewa, akhirnya pulang kampung lagi.


Bali makin asyik. Bli Putu, tour guide yang nemenin rombongan selama dua hari, sangat pintar menjelaskan semua tentang Bali. Dari segi pemerintahan, politik, filosofi budaya hingga keagamaan.

Bli Putu berpostur tinggi besar, rambut tipis sepinggang dengan helaian rambut putih yang muncul di antara ikatan rambutnya, kulit agak gelap terbakar matahari dan senyum lebar yang sangat ramah.


With Bli Putu at Kuta Beach

Ada yang menarik. Dalam salah satu episode ceritanya yg ngocol dan kadang nyerempet porno (konsumsi orang2 tua yang jenuh di perjalanan), tiba2 Bli Putu bertanya aku lahir hari apa. Hari lahir menurut keyakinan berbagai budaya memang memiliki makna khusus yang mempengaruhi karakter seseorang.

Aku lahir hari Senin. Mulailah Bli Putu mendeskripsikan arti hari kelahiranku. Senin memiliki unsur air. Unsur air identik dengan malam hari, utara dan bersifat dingin. Seperti sifat air yang mengalir dan mudah menyesuaikan diri, orang-orang yang lahir di hari Senin mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang2 di sekitarnya. Bisa menjadi pendengar yang baik, makanya sering dijadikan tempat curhat. Tapiiiii.....kalau punya masalah lebih suka menyimpan untuk diri sendiri, menyelesaikan sendiri, ketimbang berbagi dengan orang lain. Dari segi karakter, unsur air diasosiasikan dengan kejernihan pikiran dan rasional. Kok bisa cocok dan benar banget ya? Aku seringkali berpikir, menganalisa dan mengambil keputusan berazaskan logika dan sering mengabaikan perasaan. Even perasaanku sendiri. Ough...... Hujatan dan tudingan kalo aku terlalu beku ngadapin orang, itu sudah biasa. Padahal kapan sih orang-orang itu menyempatkan diri menengok lubuk hatiku terdalam? Aku juga wanita biasa yang mudah galau dan sensi. Jiaaaaaah......

Dalam ilmu pengobatan ginjal bersifat air. Entah apa maksudnya. Mungkin harus lebih berhati-hati menjaga fungsi ginjal. Mungkin lho yaaaa..... Sedangkan warna yang cocok dan dapat mengeluarkan auraku adalah warna hitam yang mewakili unsur air.  

Sebenarnya aku masih penasaran dengan catatan2 lainnya dari hari kelahiranku, tapi teman2 rombonganku keburu memotong dan ingin mengkonsultasikan hari lahirnya masing2. Bli Putu tertawa geli melihat antusiasme rombongan yang ingin menjadikan dia peramal. "Kalau masih penasaran ketik tanya spasi primbon" dengan bercanda Bli Putu menutup diskusi hari lahir dan merubah topik cerita lainnya. Disambut koor kecewa teman2 yang masih penasaran dengan hari lahirnya.

Hidup membutuhkan keseimbangan, kata Bli Putu. Kita membutuhkan harmonisasi dengan alam. Karena itu janganlah merusak alam. Tubuh kita pun membutuhkan keseimbangan. Dalam beberapa aliran agama, jam 2 malam adalah waktu yang tepat untuk mendekatkan diri pada sang pencipta. Karena saat itulah tubuh mencapai kesimbangannya yang tertinggi. Yin dan yang.

Bli Putu beragama Hindu. Dia rutin melakukan meditasi setiap hari guna mencapai keseimbangan dalam hidupnya. Pemahamannya tentang kehidupan yang berlandaskan filosofi budaya dan keyakinannya luar biasa mendalam.



Aku jadi teringat sunnah Rasul untuk shalat tahajud yang dianjurkan pada 2/3 malam dan setelah tidur malam. Pengalaman sakit hepatitis A di akhir tahun 2013 lalu membuat aku banyak membaca dan membandingkan dengan ajaran Islam.

Tubuh manusia melakukan proses detoksifikasi, mengurai dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh melalui liver pada jam 11 malam sampai jam 2 dubuh dan dalam kondisi tidur. Itulah kenapa kita dilarang begadang yang tiada artinya. Begadang boleh saja...aaaaaa....kalo ada perlunya.. hallah..... malah dangdutan..

Intinya gini, Muhammad SAW menyuruh umat muslim untuk tidur terlebih dahulu sebelum melaksanakan tahajud, agar tubuh memiliki kesempatan untuk proses detox tadi. Bila liver tidak melakukan detox, racun akan terbawa ke empedu dan ginjal. Itulah kenapa orang yang alkoholic sering mengalami komplikasi, karena racun dalam alkohol yang tidak di detox berjalan ke empedu dan ginjal. Jadi untuk yang alkoholic dan suka begadang, cobalah untuk hidup lebih sehat.

Penyebab hepatitis A yang aku alami kemarin bisa jadi karena suka begadang, konsumsi vitamin berlebihan dalam jangka panjang dan ngopi berlebihan. Tidur selepas magrib, jam 10 terbangun dan terjaga hingga jam 3 subuh.


Kopi itu punya pesona luar biasa untuk aku...

Yach.....masih banyak lagi penyebab hepatitis A, antara lain nge-drug, minum obat2an herbal dalam waktu lama, konsumsi obat2 dokter seperti parasetamol yang mengganggu fungsi hati, dan masih banyal lagi sejarah pola hidup yang mengakibatkan munculnya penyakit. Semua sama. Karena tidak adanya keseimbangan dan harmonisasi di dalam tubuh. Tubuh dipaksa untuk beraktifitas dan menerima zat-zat beracun diluar ambang batas kemampuan pertahanannya. Sekali lagi, cobalah untuk hidup lebih sehat.

So....jadi alasan beribadah di 2/3 malam bukan hanya karena keheningan malam yang mampu membuat kita lebih khusuk saat berkomunikasi dengan Sang Pencipta, tapi juga untuk kesehatan kita.

Bli Putu rajin meditasi. Aku bertanya, Bli, bagaimana caranya fokus dan memusatkan pikiran agar kita lebih khusuk saat meditasi? Karena pada saat shalat pun, kekhusukan adalah hal yang sangat sulit untuk dilaksanakan. Terkadang pikiran mengembara nun jauh kesana, sementara mulut dan hati bertasbih memuja Sang Khalik. Ajari aku Bli, untuk aku adopsi saat beribadah pada Sang Khalik.

Bli Putu tersenyum sabar. "Bli juga belum bisa fokus dan menghilangkan seluruh masalah duniawi pada saat meditasi. Untuk awal, biarkan saja seluruh pikiran mengembara. Fokuslah pada pengaturan nafas saat meditasi. Pengaturan nafas yang baik akan membuat tubuh dan pikiran rileks. Membuat kita lebih pasrah dan memasuki lebih dalam sebuah komunikasi yang khusuk. Membimbing kita sebagai manusia untuk memakai mata ketiga yang tak tampak. Mata batin. Untuk mendekatkan diri pada sang pencipta, dan dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat melihat hal2 tertentu yang tidak bisa dilihat banyak orang. Membuat kita lebih mampu menganalisis suatu permasalahan jauh lebih dalam dibanding manusia biasa yang tidak mau menggunakan mata batinnya."

Tidak banyak waktu yang bisa dipakai untuk sharing disela-sela tugas Bli Putu sebagai tour guide. Tapi yang sedikit ini mampu mencerahkan hatiku pada perjalanan ke Bali kali ini.

Thanks Bli. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Thank you so much.




(Catatan tentang Hepatitis A bisa jadi ada yang tidak sesuai dengan catatan ilmu kedokteran. Maklumin aja ya.... Gak sempat riset lagi waktu mau nulis catatan ini. Cuma ngandalin memori yang masih terekam saja. Jadi kalo mau lebih yakin, browsing saja ya. Banyak kok informasi tentang Hepatitis A.)




Sabtu, 17 Agustus 2013

Jalan-Jalan di Pulau Karampuang Mamuju


Kamis, 15 Agustus 2013

"Hai pemirsa...... Saya Jennifer Arnelita. Hari ini Jennifer sedang berada di Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat....."

Jiaaa....elah.... ini cuma ngopi paste kalimatnya Jennifer waktu take gambar sesi jalan-jalan di Pulau Karampuang.

Take picture with C&R RCTI

Pulau Karampuang itu sebuah pulau kecil yang berada tepat di depan kota Mamuju. Dengan perahu kayu bermotor bisa ditempuh sekitar 15 - 20 menit dengan biaya Rp.15.000 PP. Jadi kalo mau ke tempat wisatanya, bilang aja mau dijemput jam berapa. Si si Bapak tukang perahu akan hadir sesuai permintaan.

Nadia dan Jennifer di atas perahu saat ke Pulau Karampuang

Kalo mau jalan-jalan keliling pulau juga bisa. Perahunya di rental aja. Pakai sehari include BBM dan drivernya si Bapak tukang perahu Rp.500.000. Tapi kalo lagi sepi harga bisa nego.

Pulau Karampuang ini dikelilingi tanaman rumput laut dan hutan mangrove. Rumput lautnya punya kualitas yang sangat bagus. Konon di Sulawesi Barat, rumput laut dari Mamuju ini yang punya kadar garam dan kadar air paling bagus. Selain itu terumbu karangnya juga sangat indah. Di laut yang agak dalam, ada terumbu karang yang modelnya seperi meja makan. Sayang kalo dari permukaan laut tidak kelihatan.

Terumbu karang ini banyak ditemukan di seputar Pulau Karampuang. Karena airnya sangat jernih, bisa ngambil gambar dari atas permukaan laut. Indah yaa..... Sayang sekali kalau masyarakat sekitarnya tidak bisa menjaga dan tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan untuk bisa menjadi sebesar ini.

Ada beberapa tempat yang bisa dijadikan lokasi wisata untuk yang penasaran dengan keunikan pulau ini. Sayangnya area wisata belum dikelola maksimal oleh pemerintah setempat. Kebayang kan kalo area Pulau Karampuang ini dikelilingi resort terapung seperti di Derawan sana. Trus ada banana boat, fasilitas diving, waduuuuuh......pasti keren banget. disinilah tantangan untuk pemerintah setempat untuk pengembangan potensi wisatanya. 

Di Pulau Karampuang ini ada sumur bernama Sumur Jodoh. Konon kalo kita mandi di sumur ini, insya Allah akan segera terbuka pintu jodohnya. Jiaaaaa.......gw juga mau 'kali seandainya itu benar....

Waktu sesi take picture di Sumur Jodoh, ada kejadian yang sangat lucu. Oh iya, di sumur jodoh ini terkenal juga dengan nama Sumur Tiga Rasa. Karena ditempat yang sama sumur itu terbagi menjadi air tawar, air asin dan air payau. Unik kan? 

Balik ke kejadian lucu yang pengen aku ceritain tadi. Nah....ternyata di area sumur jodoh nih, sudah dibangun gazebo-gazebo cantik di tepi pantainya. Maksudnya untuk menarik minat wisatawan kali ya. tapi aku yang sudah agak lama tidak jalan-jalan kesitu, jadi shock juga. Ternyataaaaa......sumur jodoh itu sudah nggak keliatan lagi! Dikelilingi bangunan permanen dan dijadikan kamar mandi serta sumber air warga setempat. Aduuuuh.....sayang ya. Trus disebelahnya dibangun gazebo yang di tengah-tengahnya ada bak penampungan air tawar. Daaaaan.....yang buat aku hampir termehek-mehek, disekelilingnya penuh ibu-ibu dan anak gadis yang sedang mencuci dengan kostum pakai kain panjang saja. Trus gimana caranya mau shooting untuk promosi wisata?

Akhirnya diakal-akalin aja. Pak Desa yang ikut ngantar menghimbau dengan agak memaksa supaya ibu-ibu dan para gadis menyingkir dulu, karena mau dipakai Jeje untuk shooting. Dengan tersipu-sipu mereka menyingkir dan membawa cuciannya yang setumpuk itu.

Pulangnya aku mikir, apa gunanya dibangun gazebo disitu kalo hanya untuk nonton orang nyuci ya? #sedih



shocking pink-nya ngeriiii...............



Masmas anggota tim dari Jakarta. Sampe lupa nama..


Ika, akyu, Nadia

Jumat, 17 Mei 2013

KIKO, SEBUAH TRILOGI

18 Juni 2013, 02.27 pm

Malam yang sepi. Berdiri sendiri di teras rumah. Kuhirup udara malam. Segar.
Malam yang sangat sepi. Beberapa waktu silam, di teras ini, ku lepas Kiko pergi. Sebuah kesadaran saat itu muncul, betapa keegoisanku telah membelenggu semangat kebebasan dan kebahagiaan Kiko.
Malam ini aku rindu Kiko.
Telah sekian lama. Tatapan matanya yang penuh rasa ingin tahu, tak pernah hilang dari benakku.
After midnite. Sayup terdengar alunan lagu malam. Konser kemegahan sang pemilik malam. Ada Kiko disitu.
Aku tersenyum perlahan. Menahan getaran rasa rindu yang dalam.
Kebahagiaanmu Kiko, adalah bagian terbesar dari kebahagiaanku yang terbungkus sepi. Saat uluran tanganku terulur dan lepas….
Banyak kenangan yang tak terlupakan. Di semua sudut jalan, di semua lagu, disemua mimpi dan harapan. Walau hilang.
Kuseka ujung mataku yang basah. Tersenyum, dengan bibir yang bergetar menahan rindu. Selamat malam Kiko.

Rabu, 04 Juli 2012

Disaat Kiko Pergi....

" Hanya perlu sebuah keberanian,
 untuk membuat sebuah loncatan dalam hidup... "

Di suatu siang sesudah hujan, aku berjalan melalui tempat parkir ke teras rumah. Udara terasa sejuk. Debu dan rasa kering yang mengganggu selama beberapa hari ini langsung lenyap terhapus hujan beberapa saat yang lalu. Aku menatap daun pandan raksasa yang tumbuh subur di samping rumah. Ibu-ibu biasa menggunakannya untuk membuat kue tradisional di Mamuju, namanya tettu. Bahannya tepung beras, santan, dan gula merah atau gula pasir. Dikukus dalam daun pandan yang dibentuk kotak. Rasanya sangat nikmat. Apalagi disantap dingin di siang hari.

Sambil terus menghayal tentang tettu, tiba-tiba mataku terpaku pada makhluk-mahkluk kecil yang berjejer banyak sekali di lantai teras. Satu, dua, tiga.....ya ampun.... Ada sekitar 20 ekor kodok kecil yang bersantai di lantai teras yang putih. Nggak salah lihatkah aku? Mereka tampak tenang-tenang saja, sama sekali tidak terganggu dengan seorang bidadari cantik yang melotot takjub memandang mereka. 
# sambil make a wish, semoga salah seekor dari mereka adalah seorang pangeran ganteng yang lagi on duty, menyamar agar bisa bertemu princess cantik seperti aku... 

Beberapa ekor di antara mereka balik menatap aku. Beberapa ekor lainnya lagi tampak cuek. Menatap sisa-sisa air yang masih menetes dari pohon pandan raksasa. Aku melangkah mendekat, mereka tetap saja tidak peduli. Asyik menikmati udara yang sangat bersahabat. Mungkin mereka sudah jenuh berkubang dalam air saat hujan tadi. Dan sekarang saatnya bersantai...

Diam-diam aku iri pada 20 ekor kodok kecil kembar itu. Kok bisa sih mereka sesantai itu? Teringat Kiko, kodok kecil yang suka bermain di kamarku. Apakah dia tahu ternyata di luar sini ada begitu banyak keluarga kecilnya? Dengan warna dan ukuran yang sama dengan Kiko. Kalau belum mengenal Kiko dan tidak mengenali kaki belakangnya yang mengecil, aku pasti tidak akan bisa mengenalinya diantara kumpulan kodok-kodok kecil ini.

Aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Tidak layak rasanya aku mengusik keasyikan kodok-kodok kecil ini. Melangkah mendekati pintu kamarku yang terbuka, aku melihat langkah kecil yang tertahan. Kiko! Ya, Kiko. Mau kemana dia? Bukankah tempatnya di kamarku? Bukankah dia yang selalu menemani malam-malamku? Bukankah dia yang selalu membersihkan sisa-sisa nyamuk yang bergeletakan di kamarku setiap malam sebagai makan malamnya? Kiko mau kemana?

Aku berjalan perlahan mendekatinya, mengulurkan tanganku. Dia berusaha mengelak dan melompat menjauh. Ayo Kiko! Tidak aman untuk kodok kecil sepertimu berkeliaran seorang diri. Kamu bisa menjadi santapan dan mainan kucing-kucing nakal tetangga yang sering kelaparan dan mondar mandir disini.

Aku melangkah maju tidak mau menyerah begitu saja. Kiko juga terus meloncat menjauh. Dengan gerakan secepat kilat 
# jurus andalan 'menangkap tanpa bayangan' 

Kutangkupkan kedua tapak tanganku di atas tubuh Kiko. Yes! Dapat! Dengan hati-hati kunaikkan Kiko di tapak tangan kiriku, dan tapak tangan kananku menutup bagian atasnya supaya tidak meloncat dan terjatuh. Dengan gembira kubawa masuk Kiko ke kamarku. Tempatmu di kamar, sayang, bisikku perlahan. Tapi....ya ampun! Dasar nakal! Kodok kecil itu mengencingi tanganku. Ampun deh! Buru-buru kubawa Kiko ke kamar mandi. Kuletakkan dia di sudut favoritnya, dan kucuci tanganku dengan sabun antiseptik sambil melirik Kiko. Dia menatapku dengan tatapan tak suka. Kenapa Kiko? Aku menatapnya heran. Kami biasa berkomunikasi melalui tatapan mata. Dan aku yakin dia bisa membaca makna tatapan mataku.

Kamu tahu, sayang, dunia di balik pintu sana adalah dunia kejam yang tidak akan pernah bersahabat dengan makhluk mungil sepertimu. Disini ada aku yang akan selalu melindungimu, menjagamu. Kenapa kamu ingin berada di luar sana? Apakah nyanyian teman-teman kecilmu di teras sana telah membius dan menyihirmu agar bergabung dengan mereka?

Tahukah kamu Kiko, betapa banyak kemunafikan dan kepura-puraan di luar sana? Yang tersenyum dan tertawa, padahal di belakang mereka mengumpat dan menghujat? Yang mengaku saudara dan sahabat, tapi mereka pergi begitu saja disaat kamu sungguh tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa? 

Tahukah kamu Kiko, diluar sana amat banyak makhluk-makhluk jahat yang nampak indah tapi siap dengan semua taring dan tanduk di kepalanya untuk memanfaatkan dan menjatuhkanmu?

Sudahlah, Kiko, please.....stay with me. Aku membutuhkanmu lebih dari yang kau tahu. Aku membutuhkanmu lebih dari semua saudara dan sahabat yang berpaling disaat tak membutuhkanku. Tahukah kamu Kiko, kamulah yang dapat membuatku tertawa dan membuat binar di mataku tiapkali kamu ada disini. Sudah ya Kiko, jangan pernah berpikir untuk pergi dan meninggalkan aku sendiri disini.

Kiko memalingkan wajahnya, tak mau menatapku. Aku memandangnya dengan sedih. Apakah aku salah, Kiko?

Beberapa hari kemudian, Kiko tidak ada lagi di kamarku. Aku mencarinya di tiap sudut kamarku. Berusaha membujuknya untuk muncul, dengan beberapa ekor nyamuk mati di tanganku. Tapi Kiko tidak ada. 

Aku terduduk di lantai kamarku yang dingin. Menyesali kenapa aku sering lupa menutup pintu kamarku. Kiko pasti menyelinap pergi diam-diam, dan bergabung dengan teman-teman kecilnya di luar sana. Karena lelah dan sedih, aku mulai menangis. Kenapa Kiko? Haruskah aku menghabiskan hariku tanpa sahabat lagi? Kenapa kehidupan di luar sana lebih menarik bagimu dibanding menemaniku mengutak-atik laptopku setiap malam? Mengapa kehidupan di luar sana lebih menarik daripada menemaniku membaca buku setiap malam? Ah Kiko....

Ku langkahkan kaki ke teras depan rumah, tempat aku bertemu teman-teman Kiko beberapa hari yang lalu. Langit bersih tak berselimut awan. Bulan nampak utuh di langit. Angin bertiup semilir, dan aku merasa sendiri. Sepi.

Air mataku masih menetes satu-satu. Semuanya jadi terasa kabur. Aku rindu Kiko.

Tiba-tiba suaraku menangkap nyanyian yang bersahut-sahutan. Aku menatap berkeliling. Itu suara kodok-kodok kecil yang bernyanyi, memuja sang malam dan rembulan yang bersinar sempurna. Suara-suara yang sangat bahagia.

Di balik batu, seekor kodok meloncat mendekat. Aku mengusap air mata di pipiku. Tidak salah lihatkah aku? Itu Kiko. Ya...Kiko dengan kakinya yang tidak sempurna, tapi mampu meloncat dengan sempurna. Kiko, apakah kamu kembali karena kasihan padaku?

Aku melangkah maju, tapi kakiku seperti tertahan untuk mendekati Kiko. Matanya menatapku, sama seperti hari-hari yang lalu. Selalu bersahabat, tapi kali ini tatapan matanya tampak lebih bahagia, walau tanpa kata-kata. Dia menatapku lama, setelah itu membalikkan badannya dan meloncat pergi. Kudengar ia bernyanyi riang.

Ya Allah, aku mengusap dadaku. Setitik kesadaran muncul dalam hatiku. Betapa egoisnya aku yang hanya memikirkan diriku sendiri. Bersamaku Kiko tidak pernah bernyanyi memuja sang malam. Bersamaku Kiko tidak pernah meloncat gembira. Bersama Kiko aku mempunyai seorang sahabat, tapi sesungguhnya dia tidak punya siapa-siapa. Hidupnya dan keluarganya bukan di antara dinding-dinding kamarku, tapi di alam bebas. Tempat dia bisa bernyanyi riang setiap malam, dan berburu serangga bersama teman-temannya.

Aku sudah menjadi manusia egois yang hanya ingin menuruti kata hatiku, tapi tidak pernah memahami perasaan makhluk lain seperti Kiko.

Kiko, kodok kecil yang berkaki tidak sempurna, berani menyempurnakan hidupnya dengan sebuah loncatan kecil dan kembali ke dunianya di alam bebas. Kiko, kodok kecil yang sangat bersahabat, berani keluar dari daerah amannya dan mengambil resiko untuk semua yang mungkin ditemuinya di luar sana, demi kebahagiaan terbesar yang dia inginkan.

Aku mengusap tetes air mata terakhir yang menggenang di sudut mataku. Ternyata aku tidak sebanding dengan Kiko. Aku masih mengurung diri disini dengan segunung ketakutan tak beralasan, hanya karena berpikir aku tidak bisa fight menghadapi kehidupan di luar sana. Aku masih memanjakan ketakutan tak beralasan hanya karena kehilangan sahabat dan saudara. Aku tak berani mengambil resiko dan peluang untuk mendapatkan sahabat-sahabat baru, dan saudara-saudara yang baru, hanya karena terlalu takut suatu saat mereka pun akan meninggalkan dan berpaling dariku.

Melihat keberanian Kiko, muncul juga segunung keberanian dalam diriku. Kiko mengajarkan kepadaku tentang arti persahabatan dan hidup yang sesungguhnya. Kiko mengajarkan aku tentang arti sebuah keberanian, langkah awal untuk memulai hidup yang lebih baik.

Terima kasih, Kiko. Terima kasih untuk pelajaran berharga yang kau berikan padaku hari ini.


(Aku masih sering berdiri sendiri di teras rumahku, dan mendengarkan suara kodok bernyanyi di malam hari. Walau tidak pernah bertemu Kiko lagi, aku yakin mendengar suaranya diantara penyanyi-penyanyi alam itu.

Aku masih sering merindukan Kiko. Tapi aku yakin, dimanapun dia berada, dia akan menjadi kodok yang bahagia. Dan akupun belajar untuk menjadi bahagia dalam hidupku.)

Rabu, 3 Juli 2012, 09.00 pm

Senin, 18 Juni 2012

Ayunan Tradisional Bambu dari Kabupaten Mamuju

Ayunan tradisional dari Kecamatan Kalukku, Kab. Mamuju. Terbuat dari rangkaian bambu yang diikat tali. Cara memainkannya dengan bantuan tali untuk mengayunkan pemainnya.

Kamis, 07 Juni 2012

Pulau Karampuang Mamuju

Minggu, 3 Juni 2012

Jam lima sudah bangun. Penuh semangat dan keceriaan yang amat sangat luar biasa. The day before 39th. Betapa kadang suka lupa diri kalo umur sudah nggak muda lagi. But who's care?

Janjian jam 7.30 pagi. Mbak Nayla, sang Event Organizer untuk acara jalan-jalan ini sudah wanti-wanti nggak ada yang boleh telat.

Aku sudah siap beraksi dengan baju renang andalan. Tapi demi kesopanan dan tidak menyinggung siapapun, terpaksa baju renang ngumpet di balik kaos dan celana pendek. Ya gitu deh.....aku nggak mau jadi objek wisata juga disitu. Jadi tontonan gratis penduduk lokal.....


Perahu antar pulau dari Mamuju ke Karampuang. Jarak tempuh sekitar 10 s.d 15 menit. Biaya Rp.10.000 pp/orang

Tempat sandar perahu dari kejauhan

Semakin mendekat. Asyyiiiiiiik.......


Semakin dekat, tambah berdebar-debar. sudah lama nggak jalan-jalan ke pulau sih. Yang dikhawatirkan bukan ombak laut, tapi gagal perawatan dan menghitamnya kulit. Tapi hari ini aku tidak peduli. Nggak mau pusing masalah kulit yang menghitam..


Makan dulu ah.....
Jauh-jauh ke Pulau, yang dicari tiang listrik untuk background foto bareng....



Walau yang lain nggak siap untuk berenang, aku sudah sangat siap dengan properti renang yang tersembunyi di balik kaos. Maklum aja....nggak siap mental jadi bahan tontonan dengan baju renang yang super sexy...(hoeks...hoeks...)



Panic's attack..... dah lama nggak berenang, apalagi di laut...

Finally.....berhasil menguasai keadaan, dan yang terpenting nggak pake acara tenggelam!


Aku layak dapat bintang......# bintang laut....#


Formasi landak laut. Hati-hati kalau berjalan di laut yang agak dangkal...

Akhirnya...setelah lelah berenang kesana kemari, capek juga. Ganti baju, makan lagi,terus pulang. Sampai di kesempatan berikutnya ya! 
# semoga masih punya cadangan semangat untuk berenang lagi...

Anak pantai versi Bollywood. Nyari tiang yang banyak tulisan nama dan ungkapan cinta...

Pantai Karampuang...

Dermaga. Papan-papannya banyak yang bolong-bolong.Kudu ekstra hati-hati kalo mau naik turun perahu...

Bye....
 

RACUN

4 Mei 2023 Pagi tadi ngobrol dengan seorang teman yang berkunjung di ruangan. Tentang perempuan, hak dan kewajibannya dalam rumah tangga. Ka...