Tampilkan postingan dengan label sulawesi barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulawesi barat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Agustus 2013

Jalan-Jalan di Pulau Karampuang Mamuju


Kamis, 15 Agustus 2013

"Hai pemirsa...... Saya Jennifer Arnelita. Hari ini Jennifer sedang berada di Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat....."

Jiaaa....elah.... ini cuma ngopi paste kalimatnya Jennifer waktu take gambar sesi jalan-jalan di Pulau Karampuang.

Take picture with C&R RCTI

Pulau Karampuang itu sebuah pulau kecil yang berada tepat di depan kota Mamuju. Dengan perahu kayu bermotor bisa ditempuh sekitar 15 - 20 menit dengan biaya Rp.15.000 PP. Jadi kalo mau ke tempat wisatanya, bilang aja mau dijemput jam berapa. Si si Bapak tukang perahu akan hadir sesuai permintaan.

Nadia dan Jennifer di atas perahu saat ke Pulau Karampuang

Kalo mau jalan-jalan keliling pulau juga bisa. Perahunya di rental aja. Pakai sehari include BBM dan drivernya si Bapak tukang perahu Rp.500.000. Tapi kalo lagi sepi harga bisa nego.

Pulau Karampuang ini dikelilingi tanaman rumput laut dan hutan mangrove. Rumput lautnya punya kualitas yang sangat bagus. Konon di Sulawesi Barat, rumput laut dari Mamuju ini yang punya kadar garam dan kadar air paling bagus. Selain itu terumbu karangnya juga sangat indah. Di laut yang agak dalam, ada terumbu karang yang modelnya seperi meja makan. Sayang kalo dari permukaan laut tidak kelihatan.

Terumbu karang ini banyak ditemukan di seputar Pulau Karampuang. Karena airnya sangat jernih, bisa ngambil gambar dari atas permukaan laut. Indah yaa..... Sayang sekali kalau masyarakat sekitarnya tidak bisa menjaga dan tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan untuk bisa menjadi sebesar ini.

Ada beberapa tempat yang bisa dijadikan lokasi wisata untuk yang penasaran dengan keunikan pulau ini. Sayangnya area wisata belum dikelola maksimal oleh pemerintah setempat. Kebayang kan kalo area Pulau Karampuang ini dikelilingi resort terapung seperti di Derawan sana. Trus ada banana boat, fasilitas diving, waduuuuuh......pasti keren banget. disinilah tantangan untuk pemerintah setempat untuk pengembangan potensi wisatanya. 

Di Pulau Karampuang ini ada sumur bernama Sumur Jodoh. Konon kalo kita mandi di sumur ini, insya Allah akan segera terbuka pintu jodohnya. Jiaaaaa.......gw juga mau 'kali seandainya itu benar....

Waktu sesi take picture di Sumur Jodoh, ada kejadian yang sangat lucu. Oh iya, di sumur jodoh ini terkenal juga dengan nama Sumur Tiga Rasa. Karena ditempat yang sama sumur itu terbagi menjadi air tawar, air asin dan air payau. Unik kan? 

Balik ke kejadian lucu yang pengen aku ceritain tadi. Nah....ternyata di area sumur jodoh nih, sudah dibangun gazebo-gazebo cantik di tepi pantainya. Maksudnya untuk menarik minat wisatawan kali ya. tapi aku yang sudah agak lama tidak jalan-jalan kesitu, jadi shock juga. Ternyataaaaa......sumur jodoh itu sudah nggak keliatan lagi! Dikelilingi bangunan permanen dan dijadikan kamar mandi serta sumber air warga setempat. Aduuuuh.....sayang ya. Trus disebelahnya dibangun gazebo yang di tengah-tengahnya ada bak penampungan air tawar. Daaaaan.....yang buat aku hampir termehek-mehek, disekelilingnya penuh ibu-ibu dan anak gadis yang sedang mencuci dengan kostum pakai kain panjang saja. Trus gimana caranya mau shooting untuk promosi wisata?

Akhirnya diakal-akalin aja. Pak Desa yang ikut ngantar menghimbau dengan agak memaksa supaya ibu-ibu dan para gadis menyingkir dulu, karena mau dipakai Jeje untuk shooting. Dengan tersipu-sipu mereka menyingkir dan membawa cuciannya yang setumpuk itu.

Pulangnya aku mikir, apa gunanya dibangun gazebo disitu kalo hanya untuk nonton orang nyuci ya? #sedih



shocking pink-nya ngeriiii...............



Masmas anggota tim dari Jakarta. Sampe lupa nama..


Ika, akyu, Nadia

Senin, 18 Juni 2012

Ayunan Tradisional Bambu dari Kabupaten Mamuju

Ayunan tradisional dari Kecamatan Kalukku, Kab. Mamuju. Terbuat dari rangkaian bambu yang diikat tali. Cara memainkannya dengan bantuan tali untuk mengayunkan pemainnya.

Kamis, 07 Juni 2012

Pulau Karampuang Mamuju

Minggu, 3 Juni 2012

Jam lima sudah bangun. Penuh semangat dan keceriaan yang amat sangat luar biasa. The day before 39th. Betapa kadang suka lupa diri kalo umur sudah nggak muda lagi. But who's care?

Janjian jam 7.30 pagi. Mbak Nayla, sang Event Organizer untuk acara jalan-jalan ini sudah wanti-wanti nggak ada yang boleh telat.

Aku sudah siap beraksi dengan baju renang andalan. Tapi demi kesopanan dan tidak menyinggung siapapun, terpaksa baju renang ngumpet di balik kaos dan celana pendek. Ya gitu deh.....aku nggak mau jadi objek wisata juga disitu. Jadi tontonan gratis penduduk lokal.....


Perahu antar pulau dari Mamuju ke Karampuang. Jarak tempuh sekitar 10 s.d 15 menit. Biaya Rp.10.000 pp/orang

Tempat sandar perahu dari kejauhan

Semakin mendekat. Asyyiiiiiiik.......


Semakin dekat, tambah berdebar-debar. sudah lama nggak jalan-jalan ke pulau sih. Yang dikhawatirkan bukan ombak laut, tapi gagal perawatan dan menghitamnya kulit. Tapi hari ini aku tidak peduli. Nggak mau pusing masalah kulit yang menghitam..


Makan dulu ah.....
Jauh-jauh ke Pulau, yang dicari tiang listrik untuk background foto bareng....



Walau yang lain nggak siap untuk berenang, aku sudah sangat siap dengan properti renang yang tersembunyi di balik kaos. Maklum aja....nggak siap mental jadi bahan tontonan dengan baju renang yang super sexy...(hoeks...hoeks...)



Panic's attack..... dah lama nggak berenang, apalagi di laut...

Finally.....berhasil menguasai keadaan, dan yang terpenting nggak pake acara tenggelam!


Aku layak dapat bintang......# bintang laut....#


Formasi landak laut. Hati-hati kalau berjalan di laut yang agak dangkal...

Akhirnya...setelah lelah berenang kesana kemari, capek juga. Ganti baju, makan lagi,terus pulang. Sampai di kesempatan berikutnya ya! 
# semoga masih punya cadangan semangat untuk berenang lagi...

Anak pantai versi Bollywood. Nyari tiang yang banyak tulisan nama dan ungkapan cinta...

Pantai Karampuang...

Dermaga. Papan-papannya banyak yang bolong-bolong.Kudu ekstra hati-hati kalo mau naik turun perahu...

Bye....
 

Sabtu, 28 April 2012

Satu Sore di Pinggir Pantai Mamuju

Sabtu, 29.04.2012, 08.00 pm

Tanpa kita sadari,
Pantai tidak akan pernah menghilangkan  kenangan terindah dalam hidup kita....
Itulah kenapa aku selalu datang ke pantai...

Satu sore. Terlewati lagi. Tapi kali ini aku tidak sendiri. Berdua dengan Lukman, anak seorang teman yang baru kelas tiga SD. Nongkrong berdua, ngabisin waktu di anjungan pantai Manakarra. Sambil menonton truk pengangkut timbunan mondar-mandir menimbun pantai untuk reklamasi pantai tahap dua, Sambil menonton perahu nelayan mondar mandir entah mau kemana.

Satu sore di pinggir pantai. Dua orang anak kecil, usianya tidak lebih dari enam tahun, asyik bermain berdua. Orang tuanya yang berjualan mie goreng di sebelah penjual kelapa muda tempatku nongkrong sore ini. Masing-masing menggendong seekor kucing. Yang perempuan menggendong seekor kucing berwarna orange, yang laki-laki kucing berwarna hitam. Anak perempuan itu berambut pendek, lurus, berponi, Mukanya lucu dan ceria. Dipeluknya dengan sayang kucing orange itu, dan berkata, "Kucingku namanya si manis. Dia anakku yang paling lucu..." sambil diciumnya kepala sang kucing dengan kelembutan seorang ibu yang mungkin sering diterima dari bundanya. Aku tidak dapat menahan senyum melihatnya.

Di parkiran, seorang lelaki gondrong asyik mengatur motor-motor yang berdatangan. Kulitnya hitam terbakar matahari pantai yang ganas. Rambutnya berombak kecil, berantakan. Tapi wajahnya selalu tersenyum. Matanya menatap penuh rasa bersahabat pada siapa saja yang bertatapan dengannya. Aku kembali tersenyum. Untuk kesekian kalinya di sore ini.

Satu sore di pinggir pantai. Dulu sekali, pantai ini masih menyisakan hamparan pantai . Tempat anak-anak dan orang tua berjalan bergandengan di pasirnya. Tempat tawa ceria anak-anak kecil bersaing dengan deburan ombaknya. Tempat wajah mungil kanak-kanak itu menatap penuh protes saat aku mengajak mereka pulang, karena aroma laut yang bersahabat telanjur memikat hati mereka.

Satu sore di pinggir pantai. Kelak, aku hanya bisa bercerita kepada anak-anakku. Nak, di tempat ini dahulu kalian belajar untuk berlari dan mencintai pasir laut yang bermain di telapak kaki kalian. Di tempat ini kalian belajar untuk mencintai laut, belajar mencintai hangatnya udara sore berangin yang selalu sama dimanapun kalian berada.

Satu sore di pinggir pantai. Kelak pantai ini akan hilang, berganti dengan setumpuk timbunan. Tapi tawa ceria kanak-kanak yang bersaing dengan suara ombak yang memecah pantai tidak akan pernah hilang. Abadi, terekam dalam gulungan ombak yang pecah, mengirimkan pesan penuh cinta kepada mereka, dimanapun mereka berada. Di belahan bumi yang lain, di pinggir pantai yang lain....

RACUN

4 Mei 2023 Pagi tadi ngobrol dengan seorang teman yang berkunjung di ruangan. Tentang perempuan, hak dan kewajibannya dalam rumah tangga. Ka...