Tampilkan postingan dengan label mamuju. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mamuju. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 September 2020

JALAN-JALAN KE RUMAH ADAT MAMUJU

Sebulan belakangan ini, hujan tiap hari. Sebenarnya wajar saja sih. Karena curah hujan di Mamuju cukup tinggi. Saat daerah lain di Indonesia kering kerontang, Mamuju masih menikmati hujan. Konon keadaan ini karena masih banyak hutan di Mamuju. Mamuju memang kawasan hujan lindung, penopang oksigen Indonesia. Tapi kondisi sekarang mulai berbeda. Sejak menjadi bagian dari Sulawesi Barat, pembangunan berlangsung sangat pesat. Wilayah Kota Mamuju juga sudah mulai padat merayap dengan bangunan-bangunan baru di tiap sudut kota. Sekarang sangat susah mencari lahan di dalam kota. kalaupun ada, harganya wow luar biasa. Di jalan jenderal Sudirman saja harga tanah sudah mencapai 7.5 juta per meter. 

Tapi bukan itu masalah utamanya. Yang jadi masalah adalah batas kawasan hutan lindung itu sendiri sudah menjadi area terbuka. Bahkan lokasi Kantor Gubernur Sulbar masih masuk kawasan hutan lindung. Padahal posisinya dalam kota lho. Termasuk juga Bandar Udara Tampa Padang di Kecamatan kalukku, sekitar 15 kilo dari kota Mamuju.

Well, untuk mengubah batas kawasan hutan lindung ini memang agak sulit. Karena langsung dari Pusat, bukan kewenangan Pemerintah Provinsi apalagi Kabupaten. Entahlah, sejauh ini aku juga tidak update bagaimana kelanjutannya.

Nah, kali ini aku sebenarnya pengen cerita tentang lokasi Rumah Adat (Rudat) Mamuju. Posisinya berada tepat di tengah kota Mamuju. Awal di bangun dulu lengkap dengan istana raja, dapur, bangunan-bangunan kecil tempat pembuatan perahu, pembuatan senjata, ada juga musium yang berisi benda-benda bersejarah milik Raja-raja Mamuju. Sayangnya kondisinya ya begitu-begitu saja. Baru mulai baik 3 tahun belakangan ini, saat Kadis Pariwisatanya Pak Usdi, mantan Kadis Kominfo boss aku dulu. Musium mulai diperbaiki, koleksi benda-benda pusaka semakin banyak karena Raja Mamuju secara sukarela menyerahkan benda-penda pusakanya untuk dipajang di musium, dan musium juga mulai dibuka untuk umum.

Di sore hari, lokasi Rumah adat juga sering dijadikan tempat latihan anak-anak muda. Berlatih musik, paduan suara, teater, hingga tari-tarian. Sudah ada juga kafe di sudut lokasi Rudat yang berbatasan dengan sungai. Namanya Kafe Nal. Konsepnya menyatu dengan suasana Rudat. Menjual kopi dan minuman-minuman lainnya, camilan pisang goreng, ubi dan roti bakar. Lumayan asyik untuk dipakai nongkrong dan ngobrol. Oiya, ada panggung juga untuk live music di waktu-waktu tertentu. Sayangnya aku bukan penikmat musik yang baik, apalagi kalo live music. Berisik. Aku lebih memilih kafe atau warkop yang tenang, supaya leluasa ngobrol tanpa teriak-teriak. 

So, kalo datang kesini, pilihanku sudah pasti di jam-jam sepi dan tanpa live music. Kafe juga baru mulai rame menjelang sore hari, saat orang pulang kantor, hingga malam. Apalagi di malam minggu. 

Apa sih yang menarik dari Kafe nal ini? Bangunan-bangunan non permanennya dibangun di antara pohon-pohon besar yang rindang. Daun-daun pohon yang menguning seringkali berguguran saat angin berhembus agak kencang. Suasananya asyik banget. Oiya, ada juga satu stand yang menjual lukisan dan melayani pesanan lukisan, juga stand yang menjual kain tenun sekomandi, kain tenun tradisional dari Kecamatan kalumpang. Next aku cerita khusus tentang kain tenun Sekomandi ini ya.

Setiap kali datang, aku selalu meluangkan waktu ke stand lukisan itu. Ada beberapa lukisan yang dilukis di atas potongan kayu lebar. Keren dan unik. Beberapa di antaranya dijadikan ornamen hiasan kafe juga. Temanya wajah orang-orang Kalumpang. Pelukisnya sendiri waktu aku tanya ternyata berasal dari Kalumpang. 

Jadi teringat Kampung Betawi di Ancol. Di bagian Pasar Seni juga ada pelukisnya, barang-barang yang nyeni dan suasana pohon-pohon besar yang teduh. Jadi pengen ke Ancol lagi....

Untuk harga minuman dan makanan di Kafe Nal, standar saja. Mulai 10 ribu sampe 25 ribuan. Rasanya juga standar. Jangan berharap akan muncul minuman dan camilan yang rasanya warbyazah disini. Pisang gorengnya juga kadang susah ditebak. Antara pisang mentah menjelang mateng, tapi matengnya karena diperam. Jadi rasanya ya gitulah. Pisang peppeknya juga biasa. Pisang peppek itu pisang kepok mentah yang digoreng, trus dipukul-pukul dikit, digoreng lagi. Makannya pake sambal mentah. Pokoknya standar semua. Asyiknya memang untuk ngobrol saja kalo kesini. WIFI juga ada, tapi jaringannya sering lemot. Kalo aku lebih suka pake jaringan internet dari hape saja.

Oiya, untuk masuk ke lokasi Rudat, bayaran per orang 3 ribu. Tapi kalo bukan jam-jam rame, biasanya petugas tiketnya nggak standby di depan. Jadi bisa lolos-lolos saja gratisan. Secara aku kan suka nyari yang gratisan gitu 😁😁😁

Mamuju, 22 September 2020





Selasa, 24 April 2018

Mamuju : Air Terjun Tamasapi

22 April 2018

Sejak 2 minggu lalu pengen banget explore Mamuju. Dah jalan-jalan keliling, tapi di Mamuju sendiri setelah tinggal belasan tahun malah nggak pernah kemana-mana.

So, setelah bergerilya ngajakin dan ngomporin teman-teman kantor, terkumpul juga 10 orang yang memang suka jalan-jalan. Ada teman yang ngajak istrinya juga. Pokoknya judulnya seru-seruan lah.

Hari Minggu, jam 6 pagi saya sudah keluar rumah. Tujuannya nyari penjual nasi kuning untuk bekal. Kalo air mineral dan teh kotak sudah ada di kantor. Beli kue-kuean juga. Kenapa nggak pake acara masak-masakan?

Pertama, ribet. Kalo harus jalan kaki lumayan jauh nggak mungkinlah nenteng-nenteng bekal banyak-banyak. Jadi beli aja trus ntar disuruh bawa bekalnya masing-masing. Jadi nggak saling ngerepotin.

Kedua, jangan mengharapkan saya untuk disuruh masak dan nyiapin bekal. Bukan gw banget iih….

Setelah bekal lengkap (ntar tinggal disinggahin kalo mau berangkat), aku balik rumah lagi ganti kostum dan bawa backpack. Tujuan hari ini Air Terjun Tamassapi.

Air terjun Tamasapi lokasinya nggak terlalu jauh dari kota. Cuma butuh berkendara sekitar 15 menit ke arah luar kota, Kali Mamuju, trus jalan kaki satu kilometer selama kurang lebih 20 sampai 30 menit. Jalannya nggak terlalu susah. Cuma agak menuun, datar dikit, trus naik lagi. Masih bisalah untuk rombongan emak-emak yang penuh semangat meski jarang olahraga.

Setelah melewati So’do di Kali Mamuju, kendaraan parkir saja di pinggir jalan beraspal. Tidak ada tukang parkir, jadi jangan lupa pake kunci leher untuk motor dan mengunci rapat semua pintu mobil. 

Dan.... mulailah perjalanan menuruni jalanan  berbatu-batu. Kalo dilihat sebenarnya pernah ada upaya pembuatan jalan setapak yang disemen. Tapi sudah mulai hancur. Karena jalanan yang kami lewati ini menjadi tempat air mengalir kalo musim hujan tiba. Secara Mamuju adalah kawasan yang memiliki curah hujan cukup tinggi. Dengan kawasan hutan lindungnya yang luas, Mamuju menjadi penyangga oksigen Indonesia. Saat daerah lain mulai kering dan tanahnya terbelah retak-retak karena musim kemarau, Mamuju masih sering diguyur hujan.






Balik lagi ke my trip my adventure ya. Setelah jalan sekitar 15 menit, jalanan mulai rata lagi. Kami bertemu dua air terjun pertama di pinggir jalan. Sebenarnya hanya   air terjun kecil. Airnya mengalir di atas batu-batu yang membentuk dinding alam dan sangat keren. Teman-teman langsung aja pada gifo berhenti foto-fotoan sambil tarik nafas dikit. Habis itu lanjut jalan lagi.





Air terjun kedua di pinggir jalan.


Setelah mendaki lagi, kami bertemu dengan seorang bapak tua yang kami panggil Pua’ atau Bapak dalam bahasa Mandar Mamuju. Pua’ ini duduk di sebuah gubuk bamboo kecil dan menagih setiap pelintas disitu sebesar 2 ribu rupiah per orang. Tidak ada tiket retribusi resmi. But it’s ok lah. Kasihan saja melihat Pua’ yang lumayan berumur itu.


Bersama Pua'

Setelah membayar 20 ribu untuk 10 orang, kami berjalan sedikit lagi, dan tibalah di lokasi air terjun Tamassapi.


Di kejauhan itu kolam pengolahan air milik PDAM

Jujur saja, yang saya temui tidak sesuai ekspektasi. Disitu ada kolam air bagian dari instalasi penyaringan air milik PDAM yang mensuplai kebutuhan air warga Mamuju, trus naik lagi sedikit ada 3 bangunan, entah fungsinya apa, yang sangat kotor dengan lapisan lumpur dan tanah. Bangunan itu hanya ditembok sekitar 1 meter. Mau duduk-duduk juga nggak bisa. Mau naruh tas juga bingung karena basah dan lembab. Akhirnya ada yang menggantung tas di pagar besi, dan ada juga yang cuek digeletakin di atas tembok, termasuk saya. Dah itu mulailah sibuk foto-fotoan.


Gazebo yang lembab, kotor dan berlumpur.

Cuma ini sepotong area yang lumayan bersih dan bisa dipake duduk-duduk. Tapi.... puanaaaaasss poll.


Air terjun setinggi 30-an meter ini indah banget, airnya lumayan deras. Biasanya kalo habis hujan di gunung, debit air memang meningkat. Tapi harus lebih waspada karena kita nggak tahu bisa saja aliran air di atas membawa pohon-pohon yang tumbang dan jatuh ke bawah. Belom apa-apa saya sudah horror duluan.




Area kolam penampung air terjun yang lanjut mengalir ke sungai tidak terlalu besar. lokasinya memang tidak terlalu luas. Sungainya berbatu-batu dan ada pohon tumbang disitu.






Sayangnya, akses untuk sampai ke kolam di bawah air terjun dan mandi-mandi juga agak susah. Karena terhalang batu-batu besar berlumut yang licin. Saya nggak ikutan mandi-mandi. Airnya dingin banget dan arus airnya lumayan deras. Seandainya dibangun jembatan atau jalanan kecil yang agak melingkar pasti keren. Saya milih foto-fotoan saja. Tapi sayangnya, dengan kamera hp tidak bisa mengambil gambar terlalu dekat. Percikan air dan angin yang agak kencang bikin kamera basah terus.












Percikan air terjunnya yang deras dan angin yang lumayan kencang,
bikin hasil foto nggak maksimal.

Saya mulai paham kenapa air terjun Tamassapi ini tidak terlalu ramai dikunjungi. Fasilitas sarana prasarana untuk orang yang mau rekreasi memang belum ada. Toilet, tempat duduk-duduk istirahat, penjual makanan, bahkan tempat sampah juga tidak ada. Sampah-sampah plastik bawaan pengunjung hanya ditumpuk begitu saja di satu titik. Saya lihat mulai banyak. Entah siapa yang bertanggung jawab untuk membersihkan semua sampah-sampah ini.


Owwww...... tumpukan sampah yang merusak lingkungan dan pemandangan.

Setelah makan bekal nasi kuning, kami langsung pulang dan sempat singgah lagi di So’do Kali Mamuju. Kali ini saya ikutan berendam ala putri duyung di kali. Lengkap dengan sepatu dan kaos kaki. Dah gitu pulang basah-basahan. Lumayan seru acara jalan-jalan hari ini. Jalan-jalan sambil olahraga. Dan belom apa-apa sudah pada nanya minggu depan mau kemana lagi? 


See you another trip gaes...!


Sabtu, 05 Maret 2016

Ikuti Takdirmu

Mamuju, Minggu 6 Maret 2016

Fokuslah pada bahagiamu,
Abaikan lainnya....


Berpisah jarak dengan 2 anak lelaki kesayangan memang terasa berat. Apalagi disaat rindu datang menyapa. Mendengar suaranya saja rasanya tak pernah cukup.

Rasa rindu yang menyayat hati awalnya memang menyakitkan. Rasa marah, menyalahkan keadaan, kebencian yang dalam, doa dan kalimat-kalimat kutukan pada orang-orang tertentu kerap kupanjatkan. Hasilnya bukan ketenangan, tapi tekanan yang semakin menyiksa.

Aku tidak boleh kalah oleh keadaan. Aku tidak boleh menyerahkan hidup dan kebahagiaanku dengan percuma. Aku harus lebih baik lagi.

Mulailah aku membuat prioritas dalam hidupku. Apa saja yang bisa membuat aku nyaman dan bahagia.

Orang-orang yang masuk black list dalam doa kutukanku sudah pasti prioritas utama untuk kuabaikan. 

Karena ......

1. Rasa marah benci dan dendam akan berbalik menjadi kekuatan dahsyat yang merusak diri sendiri. Membuat tubuh kehilangan imunitas. Mengundang berbagai macam penyakit. Membuat penuaan datang lebih awal. Dan aku tidak ingin dituakan oleh amarah dan dendam.

2. Aku belajar untuk ikhlas. Ikhlas menerima jalan hidupku. Ikhlas menerima bahwa semua mimpi-mimpiku ternyata bukan yang terbaik untukku. Allah telah menyiapkan kehidupan yang jauh lebih baik dibanding perencanaan dan impian hamba-Nya. Dan semua berjalan sesuai kehendakNya. Aku melangkah mengikuti takdirku. Dengan hati yang jauh lebih tenang. Lebih bahagia.

3. Aku tidak ingin memiliki musuh dalam hidup ini. Mereka bukan musuhku. Mereka hanyalah orang-orang yang Allah perkenankan hadir dalam takdirku sebagai pengingat. Melalui merekalah cara Allah menegur aku. Melalui mereka cara Allah memeluk hangat hatiku. Melalui mereka cara Allah membuka mataku. Melalui mereka Allah selalu berkata, 'Semua hanya titipan-Ku. Aku bisa mengambilnya kapanpun Aku berkehendak. Tidak ada kekuatan yang lebih besar selain kekuatan-Ku. Tidak ada cinta yang melebihi cinta-Ku. Dan untukmu, Aku selalu ada untuk memelukmu.'

Bersama anakku aku belajar untuk berbagi kebahagiaan. Kami belajar untuk memaafkan dan menghapus dendam. Kami bersama untuk saling menguatkan, betapa hidup terlalu singkat untuk disia-siakan begitu saja.

Bersama ayahnya mereka belajar kuat menjadi lelaki. Bersama aku ibunya, mereka belajar untuk mencintai dan menyayangi. Bersama sepupu, oma dan om tantenya mereka belajar untuk berbagi.

Tidak mudah memang untuk mendaki mencapai kebesaran hati seperti saat ini. Tapi pelajaran hidup dari orang-orang di sekelilingku, bisikan Allah di hatiku saat aku bertanya padaNya, traffic light kehidupan yang memberi tanda dariNya, semua mendewasakanku. Mendewasakan anak lelaki tercintaku.

Dan saat aku tiba di ujung penantianku untuk memilih, aku memilih untuk bahagia. Bahagia dengan kesyukuran terbesar dalam hidupku. Sebab Allah tidak pernah salah menuntunku.






Minggu, 26 April 2015

Just Another Day in Paradise

Senin, 27 April 2015

Seringkali mencoba memahami, apakah yg tersimpan dalam benak mereka? Berbicara, tertawa dan bernyanyi sepanjang hari. Kadang marah dan mengamuk karena tak ingin disebut gila. Dimanakah batas kesadaran yang si Ibu punya?

Bahkan orang yang sakit jiwa sering tersadar dan menolak untuk dituduh gila. Sementara yang sehat sering berlaku gila di tengah kesadarannya.

That's life.

Merenung. Hal yang sering kita lupakan dalam kesadaran.
Untuk memahami rumitnya  kehidupan.

Bahkan dalam dunianya yang sepi si Ibu tetap meluangkan waktu untuk menulis. Belajar.
Mengapa kita seringkali lupa karena merasa telah cukup?

Kecantikan yang berbeda dalam tiga dunia.
Ketidaksadaran tetap menghasilkan kecantikan yang unik dalam dunia si Ibu.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Jalan-Jalan di Pulau Karampuang Mamuju


Kamis, 15 Agustus 2013

"Hai pemirsa...... Saya Jennifer Arnelita. Hari ini Jennifer sedang berada di Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat....."

Jiaaa....elah.... ini cuma ngopi paste kalimatnya Jennifer waktu take gambar sesi jalan-jalan di Pulau Karampuang.

Take picture with C&R RCTI

Pulau Karampuang itu sebuah pulau kecil yang berada tepat di depan kota Mamuju. Dengan perahu kayu bermotor bisa ditempuh sekitar 15 - 20 menit dengan biaya Rp.15.000 PP. Jadi kalo mau ke tempat wisatanya, bilang aja mau dijemput jam berapa. Si si Bapak tukang perahu akan hadir sesuai permintaan.

Nadia dan Jennifer di atas perahu saat ke Pulau Karampuang

Kalo mau jalan-jalan keliling pulau juga bisa. Perahunya di rental aja. Pakai sehari include BBM dan drivernya si Bapak tukang perahu Rp.500.000. Tapi kalo lagi sepi harga bisa nego.

Pulau Karampuang ini dikelilingi tanaman rumput laut dan hutan mangrove. Rumput lautnya punya kualitas yang sangat bagus. Konon di Sulawesi Barat, rumput laut dari Mamuju ini yang punya kadar garam dan kadar air paling bagus. Selain itu terumbu karangnya juga sangat indah. Di laut yang agak dalam, ada terumbu karang yang modelnya seperi meja makan. Sayang kalo dari permukaan laut tidak kelihatan.

Terumbu karang ini banyak ditemukan di seputar Pulau Karampuang. Karena airnya sangat jernih, bisa ngambil gambar dari atas permukaan laut. Indah yaa..... Sayang sekali kalau masyarakat sekitarnya tidak bisa menjaga dan tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan untuk bisa menjadi sebesar ini.

Ada beberapa tempat yang bisa dijadikan lokasi wisata untuk yang penasaran dengan keunikan pulau ini. Sayangnya area wisata belum dikelola maksimal oleh pemerintah setempat. Kebayang kan kalo area Pulau Karampuang ini dikelilingi resort terapung seperti di Derawan sana. Trus ada banana boat, fasilitas diving, waduuuuuh......pasti keren banget. disinilah tantangan untuk pemerintah setempat untuk pengembangan potensi wisatanya. 

Di Pulau Karampuang ini ada sumur bernama Sumur Jodoh. Konon kalo kita mandi di sumur ini, insya Allah akan segera terbuka pintu jodohnya. Jiaaaaa.......gw juga mau 'kali seandainya itu benar....

Waktu sesi take picture di Sumur Jodoh, ada kejadian yang sangat lucu. Oh iya, di sumur jodoh ini terkenal juga dengan nama Sumur Tiga Rasa. Karena ditempat yang sama sumur itu terbagi menjadi air tawar, air asin dan air payau. Unik kan? 

Balik ke kejadian lucu yang pengen aku ceritain tadi. Nah....ternyata di area sumur jodoh nih, sudah dibangun gazebo-gazebo cantik di tepi pantainya. Maksudnya untuk menarik minat wisatawan kali ya. tapi aku yang sudah agak lama tidak jalan-jalan kesitu, jadi shock juga. Ternyataaaaa......sumur jodoh itu sudah nggak keliatan lagi! Dikelilingi bangunan permanen dan dijadikan kamar mandi serta sumber air warga setempat. Aduuuuh.....sayang ya. Trus disebelahnya dibangun gazebo yang di tengah-tengahnya ada bak penampungan air tawar. Daaaaan.....yang buat aku hampir termehek-mehek, disekelilingnya penuh ibu-ibu dan anak gadis yang sedang mencuci dengan kostum pakai kain panjang saja. Trus gimana caranya mau shooting untuk promosi wisata?

Akhirnya diakal-akalin aja. Pak Desa yang ikut ngantar menghimbau dengan agak memaksa supaya ibu-ibu dan para gadis menyingkir dulu, karena mau dipakai Jeje untuk shooting. Dengan tersipu-sipu mereka menyingkir dan membawa cuciannya yang setumpuk itu.

Pulangnya aku mikir, apa gunanya dibangun gazebo disitu kalo hanya untuk nonton orang nyuci ya? #sedih



shocking pink-nya ngeriiii...............



Masmas anggota tim dari Jakarta. Sampe lupa nama..


Ika, akyu, Nadia

Senin, 18 Juni 2012

Ayunan Tradisional Bambu dari Kabupaten Mamuju

Ayunan tradisional dari Kecamatan Kalukku, Kab. Mamuju. Terbuat dari rangkaian bambu yang diikat tali. Cara memainkannya dengan bantuan tali untuk mengayunkan pemainnya.

Kamis, 07 Juni 2012

Pulau Karampuang Mamuju

Minggu, 3 Juni 2012

Jam lima sudah bangun. Penuh semangat dan keceriaan yang amat sangat luar biasa. The day before 39th. Betapa kadang suka lupa diri kalo umur sudah nggak muda lagi. But who's care?

Janjian jam 7.30 pagi. Mbak Nayla, sang Event Organizer untuk acara jalan-jalan ini sudah wanti-wanti nggak ada yang boleh telat.

Aku sudah siap beraksi dengan baju renang andalan. Tapi demi kesopanan dan tidak menyinggung siapapun, terpaksa baju renang ngumpet di balik kaos dan celana pendek. Ya gitu deh.....aku nggak mau jadi objek wisata juga disitu. Jadi tontonan gratis penduduk lokal.....


Perahu antar pulau dari Mamuju ke Karampuang. Jarak tempuh sekitar 10 s.d 15 menit. Biaya Rp.10.000 pp/orang

Tempat sandar perahu dari kejauhan

Semakin mendekat. Asyyiiiiiiik.......


Semakin dekat, tambah berdebar-debar. sudah lama nggak jalan-jalan ke pulau sih. Yang dikhawatirkan bukan ombak laut, tapi gagal perawatan dan menghitamnya kulit. Tapi hari ini aku tidak peduli. Nggak mau pusing masalah kulit yang menghitam..


Makan dulu ah.....
Jauh-jauh ke Pulau, yang dicari tiang listrik untuk background foto bareng....



Walau yang lain nggak siap untuk berenang, aku sudah sangat siap dengan properti renang yang tersembunyi di balik kaos. Maklum aja....nggak siap mental jadi bahan tontonan dengan baju renang yang super sexy...(hoeks...hoeks...)



Panic's attack..... dah lama nggak berenang, apalagi di laut...

Finally.....berhasil menguasai keadaan, dan yang terpenting nggak pake acara tenggelam!


Aku layak dapat bintang......# bintang laut....#


Formasi landak laut. Hati-hati kalau berjalan di laut yang agak dangkal...

Akhirnya...setelah lelah berenang kesana kemari, capek juga. Ganti baju, makan lagi,terus pulang. Sampai di kesempatan berikutnya ya! 
# semoga masih punya cadangan semangat untuk berenang lagi...

Anak pantai versi Bollywood. Nyari tiang yang banyak tulisan nama dan ungkapan cinta...

Pantai Karampuang...

Dermaga. Papan-papannya banyak yang bolong-bolong.Kudu ekstra hati-hati kalo mau naik turun perahu...

Bye....
 

Sabtu, 28 April 2012

Satu Sore di Pinggir Pantai Mamuju

Sabtu, 29.04.2012, 08.00 pm

Tanpa kita sadari,
Pantai tidak akan pernah menghilangkan  kenangan terindah dalam hidup kita....
Itulah kenapa aku selalu datang ke pantai...

Satu sore. Terlewati lagi. Tapi kali ini aku tidak sendiri. Berdua dengan Lukman, anak seorang teman yang baru kelas tiga SD. Nongkrong berdua, ngabisin waktu di anjungan pantai Manakarra. Sambil menonton truk pengangkut timbunan mondar-mandir menimbun pantai untuk reklamasi pantai tahap dua, Sambil menonton perahu nelayan mondar mandir entah mau kemana.

Satu sore di pinggir pantai. Dua orang anak kecil, usianya tidak lebih dari enam tahun, asyik bermain berdua. Orang tuanya yang berjualan mie goreng di sebelah penjual kelapa muda tempatku nongkrong sore ini. Masing-masing menggendong seekor kucing. Yang perempuan menggendong seekor kucing berwarna orange, yang laki-laki kucing berwarna hitam. Anak perempuan itu berambut pendek, lurus, berponi, Mukanya lucu dan ceria. Dipeluknya dengan sayang kucing orange itu, dan berkata, "Kucingku namanya si manis. Dia anakku yang paling lucu..." sambil diciumnya kepala sang kucing dengan kelembutan seorang ibu yang mungkin sering diterima dari bundanya. Aku tidak dapat menahan senyum melihatnya.

Di parkiran, seorang lelaki gondrong asyik mengatur motor-motor yang berdatangan. Kulitnya hitam terbakar matahari pantai yang ganas. Rambutnya berombak kecil, berantakan. Tapi wajahnya selalu tersenyum. Matanya menatap penuh rasa bersahabat pada siapa saja yang bertatapan dengannya. Aku kembali tersenyum. Untuk kesekian kalinya di sore ini.

Satu sore di pinggir pantai. Dulu sekali, pantai ini masih menyisakan hamparan pantai . Tempat anak-anak dan orang tua berjalan bergandengan di pasirnya. Tempat tawa ceria anak-anak kecil bersaing dengan deburan ombaknya. Tempat wajah mungil kanak-kanak itu menatap penuh protes saat aku mengajak mereka pulang, karena aroma laut yang bersahabat telanjur memikat hati mereka.

Satu sore di pinggir pantai. Kelak, aku hanya bisa bercerita kepada anak-anakku. Nak, di tempat ini dahulu kalian belajar untuk berlari dan mencintai pasir laut yang bermain di telapak kaki kalian. Di tempat ini kalian belajar untuk mencintai laut, belajar mencintai hangatnya udara sore berangin yang selalu sama dimanapun kalian berada.

Satu sore di pinggir pantai. Kelak pantai ini akan hilang, berganti dengan setumpuk timbunan. Tapi tawa ceria kanak-kanak yang bersaing dengan suara ombak yang memecah pantai tidak akan pernah hilang. Abadi, terekam dalam gulungan ombak yang pecah, mengirimkan pesan penuh cinta kepada mereka, dimanapun mereka berada. Di belahan bumi yang lain, di pinggir pantai yang lain....

RACUN

4 Mei 2023 Pagi tadi ngobrol dengan seorang teman yang berkunjung di ruangan. Tentang perempuan, hak dan kewajibannya dalam rumah tangga. Ka...